Selasa, 01 Juli 2008

Profil Hamba Tuhan dalam Gereja Akhir Zaman

Satu isu penting di dalam Tubuh Kristus adalah kepemimpinan. Pada masa kita berhadapan dengan banyak krisis topik ini semakin penting. Bagaimana seharusnya para pemimpin di dalam Gereja Akhir Zaman. Inilah profil berdasarkan Firman Tuhan.

Konteks Kitab Wahyu

Kitab Wahyu adalah pewahyuan dari Tuhan Yesus tentang keadaan akhir zaman. Kitab Wahyu dibagikan ke dalam dua kurun waktu, yaitu SEKARANG dan MASA DEPAN. Dalam Wahyu 1-3 kita membaca penyataan Yesus tentang keadaan Gereja Tuhan pada akhir era rasuli yang dicerminkan melalui keadaan ketujuh sidang jemaat Asia Kecil. Dari Wahyu 4-22 kita membaca nubuatan-nubuatan tentang keadaan Gereja di masa depan atau di akhir zaman. Pembagian waktu dalam Kitab Wahyu itu dikonfirmasikan dalam dua ayat yang berikut ini:

“Tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi SEKARANG maupun YANG AKAN TERJADI SESUDAH INI”, Why 1:19

“Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu APA YANG HARUS TERJADI SESUDAH INI”, Why 4:1

Kitab Wahyu tidak membahas masa lampau, yaitu apa yang terjadi sebelum kitab itu ditulis, melainkan keadaan yang ada pada akhir abad pertama sejarah Gereja dan apa yang akan terjadi pada akhir zaman mendahului kedatangan kembali Tuhan Yesus. Dalam konteks itu kita akan mempelajari pewahyuan Yesus tentang pola kepemimpinan dalam Gereja Akhir Zaman.

Wahyu 4-5, pada khususnya, adalah uraian dan nubuatan tentang susunan, karakter, visi dan misi Tubuh Kristus pada akhir zaman. Dalam konteks itu mari kita melihat profil para hamba Tuhan yang akan sanggup memenangkan bangsa-bangsa bagi Kerajaan Allah.

1. Hamba Tuhan itu harus Kristosentris – mereka intim mengenal Dia

Kristosentris berarti berpusat pada Kristus. Hal ini dinyatakan dalam beberapa ayat.

“Sekeliling takhta ada dua puluh empat takhta”, Why 4:4

“Tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia”, Why 4:10

“Di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba”, Why 5:6

Dalam segala kegiatan para pemimpin Gereja akhir zaman itu, Kristus ada di tengah-tengah mereka. Mereka menyembah Dia, taat kepada-Nya dan memberitakan kehendak-Nya dan Firman-Nya. Pemimpin-pemimpin akan berhasil karena menjadikan Yesus pusat segala pikiran, perencanaan, strategi dan tindakannya. Mereka mengenal Yesus.

Rasul Petrus dalam 2Ptr 1:3-11 mengatakan bahwa pengenalan akan Yesus Kristus adalah suatu dasar keberhasilan. Setiap pemimpin dalam Alkitab yang berhasil telah mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Pemimpin yang sukses tidak hanya menceritakan dan bertindak berdasarkan cerita dan kesaksian orang lain, karena dia mempunyai kesaksiannya sendiri, kesaksian yang hidup dari pengalaman pergaulannya dengan Tuhan. Hal in sangat jelas kalau kita menyelidiki kehidupan Abraham, Musa, Daud, Elia, Daniel, Yesaya, Petrus, Yohanes, Paulus dan lain-lain. Mereka mengalami Tuhan. Mereka berjumpa dengan Tuhan. Mereka bergaul dengan Tuhan, dan hal-hal ini menjadi kunci keberhasilannya. Pengenalan dan perjumpaan dengan Tuhan tidak boleh bersifat sesuatu yang masa lampau tetapi harus menjadi pengalaman yang kontinu.

Tidak cukup berkata, “Dua puluh tahun yang lalu aku dipenuhi dengan Roh Kudus!” Yang penting adalah apa Anda sekarang penuh dengan Roh Kudus? Apakah Anda sekarang berjalan dalam perjumpaan dan pengenal akan Tuhan secara rutin? Apakah Anda terus-menerus mengalami Kristus, kuasa salib-Nya dan kuasa kebangkitan-Nya. Tanpa pengenalan akan Tuhan yang bersifat ‘kini’, kita “menjadi buta dan picik”, 2Ptr 1:9, dan pasti tidak akan berhasil menurut standar yang Tuhan berikan kepada kita.

2. Hamba Tuhan bukan loner tetapi hidup bersatu dengan kawan-kawannya

“Sekeliling takhta ada dua puluh empat takhta”, Why 4:4

“Tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu … mereka menyembah Dia … mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu sambil berkata: … ‘Engkau layak’”, Why 4:10-11

“Masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus. Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru”, Why 5:8-9

Para hamba Tuhan ini bertindak bersama sebagai pemimpin-pemimpin Tubuh Kristus di areanya. Mereka ada di sekeliling takhta bersama. Mereka menyembah bersama. Mereka menyerahkan diri kepada Kristus sebagai Kepala Gereja bersama. Mereka berdoa, menyembah dan menyanyi bersama. Mereka adalah dua puluh empat pemimpin yang bersepakat melayani bersama dalam kesatuan dan persatuan - sehati, sejiwa, seroh. Inilah kemajemukan yang kita perlu teladani, dan yang diajarkan oleh Rasul Paulus, 1Kor 1:10.

Gereja akhir zaman memerlukan para pemimpin yang adalah kawan bukan lawan yang berfungsi sebagai satu tim untuk membangun Kerajaan Allah. Mereka menjadi tim majemuk yang mempersatukan keunikan masing-masing, perbedaan karunia dan jenis pelayanan masing-masing dan memanfaatkan perbedaan-perbedaan itu untuk mencapai tujuan yang sama. Mereka cukup dewasa untuk menghormati perbedaan-perbedaan dan tidak mengizinkannya menjadi penyebab perpecahan melainkan untuk menjadi bagian-bagian dari persatuannya yang mulia. Pemimpin-pemimpin yang demikian adalah pemimpin-pemimpin sejati dan sukses.

Dalam timnya seorang Hamba Tuhan harus memiliki kapasitas untuk mengurus sumber daya yang ada padanya agar sumber daya itu dimanfaatkan sebaiknya untuk menggalang potensinya sepenuhnya agar tujuan dapat dicapai. Kepengurusan yang baik adalah bagian penting dalam pengelolaan yang efisien. Seorang pemimpin yang sukses akan mengelola sumber dayanya, stafnya, jemaatnya, keuangannya, strateginya dan visinya. Seorang konduktor atau dirigen orkes dan paduan suara harus tahu kapasitas setiap anggotanya. Setiap anggota harus mempersiapkan alatnya dan musiknya untuk memenuhi perintah konduktor. Konduktor akan mengatur irama, bunyi, harmoni untuk menghasilkan musik yang indah. Dalam peperangan seorang Jendral hanya akan berhasil kalau dia mampu mengkoordinir potensi pasukannya. Suksesnya tergantung pada kemampuannya dalam melatihnya, melengkapi timnya dengan persenjataan dan mempersiapkan semua bawahannya agar melakukan strategi yang direncanakannya. Mereka harus bergerak sebagai satu orang supaya rencana pertempuran dilaksanakan. Rasul Paulus berkata bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang sukses, pemimpin itu harus sanggup menjadi pengatur Rumah Allah, Tit 1:7, atau pengurus,

“Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimana ia dapat mengurus Jemaat Allah?” 1Tim 3:5

3. Hamba Tuhan memiliki otoritas

“Dua puluh empat takhta”, Why 4:4

Otoritas yang dimiliki para penatua ini diberikan langsung oleh Tuhan sendiri. Dia yang memberikan mereka takhta-takhta itu. Takhta-takhta diberi kepada raja-raja untuk memerintah atau memimpin. Kedua puluh empat pemimpin ini adalah bagian pemerintahan Kristus untuk memimpin Tubuh-Nya pada akhir zaman. Otoritas yang sejati itu yang mereka miliki datangnya bukan karena popularitas, pendidikan atau kekayaan tetapi karena dikaruniakan kepadanya oleh Tuhan. Perhatikan kata-kata dorongan Paulus kepada para penatua sidang jemaat Efesus.

“Kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah”, Kis 20:28

Seorang pemimpin yang sukses harus belajar menggunakan otoritas. Jalan yang terbaik untuk seorang belajar otoritas adalah duduk di bawah otoritas. Seorang pemimpin yang sukses sudah belajar prinsip-prinsip otoritas waktu dia sedang duduk di bawah otoritas itu dan belajar menundukkan diri dalam ketaatan. Otoritas, untuk memiliki kuasa yang membangun dan yang akan sanggup menghasilkan pemimpin-pemimpin masa depan yang sukses harus dibangun berdasarkan hubungan. Otoritas yang dijalankan seorang pemimpin tanpa memiliki hubungan baik dengan mereka yang dipimpin, mudah sekali menjadi kepemimpinan otoriter yang tidak peduli keadaan pribadi mereka yang dipimpin itu. Yang penting baginya hanyalah, “asal otoritasku ditaati.” Inilah penyalahgunaan otoritas dan tidak Alkitabiah.

Dalam dunia militer, rekrut-rekrut baru harus belajar penundukan kepada otoritas dan ketaatan tanpa syarat. Hubungan dibangun di antara pemimpin dan rekrut sehingga rekrut itu percaya penuh perintah pemimpin menghasilkan kemenangan. Hubungan dibangun di antara rekrut-rekrut yang mengalami penderitaan yang sama dalam pelatihan sehingga mereka belajar untuk saling percaya dan menjadi bersedia untuk mempertaruhkan hidupnya untuk menolong kawannya. Pertama, pelatihan ini dilakukan agar dalam situasi perang mereka menjadi satuan yang sanggup bertahan dan menang.

Kedua, proses pelatihan itu akan menolong mereka mengerti struktur otoritas supaya mereka akan tahu bagaimana menggunakan otoritas itu ketika otoritas itu diserahkan kepada mereka. Hubungan sangat penting untuk memelihara kredibilitas kepemimpinan agar semua pasukan tetap bersedia mempertaruhkan hidupnya untuk mencapai tujuan. Kalau kredibilitas menghilang otoritas memimpin akan hancur dan disintegrasi dan kekacauan akan terjadi. Prinsip otoritas digambarkan dalam pertemuan Yesus dengan seorang perwira yang dipuji Yesus, Mat 8:5-13. Perwira itu telah memahami otoritas kepemimpinan karena dia ada di bawah otoritas atasan dan ada pula bawahannya yang taat kepada perintahnya. Otoritas itu dikaitkannya dengan otoritas Yesus memberi perintah kepada penyakit dan penyakit itu harus tunduk kepada otoritas-Nya itu. Rasul Paulus dalam menjelaskan persyaratan kepemimpinan sidang jemaat, 1Tim 3:1-13, telah menegaskan kualitas dan karakter seorang pemimpin yang memiliki otoritas kepemimpinan itu bahkan harus menjadi “kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya”, 1Tim 3:2-4. Tanpa karakter kebapaan itu dia tidak akan memiliki jenis otoritas yang dikehendaki Tuhan dalam seorang pemimpin jemaat, 1Tim 3:4-5. Di Korintus, Paulus telah menggunakan otoritas kebapaannya untuk menganjurkan pengucilan seorang anggota yang hidup imoral tanpa pertobatan, 1Kor 5:1-13. Ketaatan mereka kemudian menghasilkan pertobatan dan pemulihan saudara tersebut, 2Kor 2:5-11.

4. Hamba Tuhan hidup dalam kekudusan

“Dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih”, Why 4:4

David Wilkerson dalam bukunya, The Vision, telah menubuatkan bahwa serangan terbesar terhadap para pemimpin akhir zaman adalah dalam bidang kekudusan. Iblis sudah tahu kalau dia dapat menjatuhkan para pemimpin, domba-domba mudah dicerai-beraikan. Kita adalah orang-orang kudus, Flp 1:1, yang terhisab kepada bangsa yang kudus, 1Ptr 2:5, maka pemimpin-pemimpin harus demikian sebab “tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan”, Ibr 12:14.

Bagaimana mungkin membangun rumah yang baik tanpa fondasi kekudusan dalam hidup seorang Hamba Tuhan? 2Ti 2:19-22; 1Kor 3:6-17.

5. Hamba Tuhan adalah pemenang

“Dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka”, Why 4:4

Dalam pesta olah raga Olimpiade pemenang-pemenang diberi medali emas, tetapi di masa yang lampau, pemenang-pemenang diberi mahkota emas.

“Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota. Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan”, Why 6:2

Kemudian kita baca bahwa pada waktu Yesus datang kembali dengan membawa banyak kemenangan, di kepala-Nya ada banyak mahkota.

“Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: ‘Yang setia dan Yang Benar’, Ia menghakimi dan berperang dengan adil. Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota”, Why 19:11-12

Pemimpin-pemimpin sukses pada akhir zaman adalah pemenang-pemenang yang akan berkuasa atas bangsa-bangsa. Pada waktu Yesus mengirim surat kepada malaikat jemaat di Tiatira, yaitu para pemimpin jemaat, Dia berjanji,

“Barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa”, Why 2:26

Jadi, seorang Hamba Tuhan harus menjadi teladan sebagai pemenang.

Seorang pemimpin tidak akan terus mendapat loyalitas dan komitmen dari jemaat kalau dia tidak memberi teladan yang baik. Kalau dia hanya pandai suruh orang melakukan sesuatu namun dia tidak bersedia melakukannya sendiri, teladannya akan berangsur-angsur melemahkan semangat dan komitmen orang lain. Saya mau menjadi teladan. Dari waktu saya mulai memimpin Sekolah Alkitab di Poso dan Tentena, Sulawesi Tengah pada tahun 1975, itulah prinsip saya. Kalau ada pelayanan ke desa-desa di pegunungan yang dijangkau lewat jalan kaki berhari-hari di hutan, saya mempeloporinya. Kalau pembuangan WC tersumbat, saya yang pertama yang menurunkan tangan di bak pembuangan untuk membersihkannya. Waktu ada orang yang mengancam siswa dengan parang di kamar, saya yang masuk melucutinya. Waktu terjadi kerusuhan dan keadaan bahaya di berbagai kota dan Propinsi seperti Ambon, Maluku Utara, Timor dan Sulawesi Tengah, saya langsung turun ke tempat-tempat itu sendiri. Saya tidak bersedia mengutus orang lain kalau saya sendiri tidak bersedia untuk melakukannya. Saya turun langsung ke lapangan karena saya dimotivasikan, diinspirasikan dan didorong oleh teladan hidup Yesus, Paulus, Yohanes, Petrus, Polycarpus, Ignatius dan banyak hamba Tuhan perintis, pejuang pedesaan dan perkotaan masa kini yang tetap setia kepada karya salib Kristus dan hidup terus dalam keadaan bahaya. Petrus dalam pesannya kepada para penatua yang menggembalakan umat Tuhan di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, 1Ptr 1:1; 1Ptr 5:1-2, telah menasihati mereka,

“Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu”, 1Ptr 5:3.

Seorang yang menjadi teladan adalah seorang yang orang lain mau contohi. Mereka mau mencontohinya sebab mereka lihat sesuatu yang baik dan berguna. Mungkin mereka mengagumi kesuksesannya, atau komitmennya, atau ketekunannya dalam doa, atau hal yang lain, tetapi untuk betul-betul menjadi teladan harus ada kredibilitas dan kredibilitas itu hanya dicapai karena contoh baik yang diberikan melalui jangka waktu yang cukup panjang. Kita mudah sekali kehilangan kredibilitas, tetapi pemulihan kredibilitas akan memakan waktu yang panjang. Saya kenal beberapa hamba Tuhan yang berbobot dan diurapi, tetapi karena kesuksesannya, mereka menjadi sasaran Iblis yang menggodainya. Itulah tragedi besar bahwa mereka tergoda dan jatuh dan untuk mereka kembali melayani seperti semula harus memakan waktu yang panjang untuk memulihkan kredibilitas dan itu hanya dapat terjadi kalau benar-benar ada pertobatan dan pemulihan dalam karakter pribadi-pribadi itu. Kalau kita akan menjadi teladan yang baik maka kita harus juga mencontohi hidup Kristus supaya seperti Paulus, kita dapat berkata, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga aku juga menjadi pengikut Kristus”, 1Kor 11:1. Inilah standar rasuli untuk menjadi seorang pemimpin yang sukses.

6. Hamba Tuhan adalah rendah hati dan tunduk pada kepemimpinan Yesus

“Tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia.… Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu sambil berkata: … ‘Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa”, Why 4:10-11

Mereka tidak gila hormat. Mereka tidak mencari posisi untuk diri sendiri. Mereka menyadari bahwa segala otoritas yang ada pada mereka diberikan oleh Yesus. Segala kemenangan yang mereka peroleh adalah karena kuasa Yesus. Oleh sebab itu mereka turun dari takhtanya masing-masing dan melemparkan mahkota kemenangannya di kaki Yesus dan mengaku bahwa hanya Yesus yang layak menerima pujian dan hormat dan kuasa.

Sifat seorang Hamba Tuhan yang benar jauh berbeda dengan sifat Diotrefes dalam 3Yoh 9-10 atau para serigala, Kis 20:28-31; Why 2:1-7.

7. Hamba Tuhan peka terhadap arus pewahyuan dan tahu langkah berikut dalam strategi Tuhan

“Maka menangislah aku dengan amat sedihnya, karena tidak ada seorangpun yang dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu ataupun melihat sebelah dalamnya. Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: ‘Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya”, Why 5:4-5

Rasul Yohanes menangis karena tidak tahu rahasia pembukaan gulungan kitab yang bermeterai tujuh itu, tetapi para penatua sudah tahu sehingga satu dari antara mereka dapat memberitahukan Yohanes langkah berikut di dalam rencana Allah, yaitu bahwa Yesus, Singa dari suku Yehuda sanggup membuka meterai-meterai itu. Nabi Amos menyatakan bahwa Allah memberitahukan rencana-Nya kepada hamba-hamba-Nya sebelum terjadinya. Artinya, Allah mau supaya para pemimpin tahu dan siap untuk menghadapi langkah-langkah berikut dalam program kerja-Nya. Itulah sebabnya pelayanan kenabian sangat penting dan di dalam setiap tim pemimpin perlu ada kepekaan mendengar suara kenabian.

“Adakah sangkakala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar? Adakah terjadi malapetaka di suatu kota dan Tuhan tidak melakukannya? Sungguh, Tuhan Allah tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi. Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut? Tuhan Allah telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?” Am 3:6-8

Seorang pemimpin yang mau menjadi seorang pemimpin yang sukses akan mendengarkan nasihat dari Raja Yosafat,

“Percayalah kepada Tuhan, Allahmu dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dan kamu akan berhasil!” 2Taw 20:20

Adalah penting untuk seorang pemimpin yang baik untuk dapat membaca, mengevaluasi, menafsirkan dan mengantisipasi arah dari trend-trend yang sedang berkembang baik di alam dunia maupun di alam roh. Seorang pengusaha yang berkembang dengan cepat biasanya sudah berkembang demikian sebab dia mampu memprediksi keperluan pasar di masa depan sehingga dia siap melayani mereka. Sebaliknya, kalau dia memproduksikan barang-barang yang tidak akan laku, dia akan mengalami kerugian besar atau menjadi bangkrut karena tidak mengenai sasaran. Hal yang sama terjadi dalam pelayanan. Ada pemimpin-pemimpin yang terikat dengan cara-cara yang lama yang tidak lagi efektif untuk pelayanan masa kini. Dia harus siap dan berani berubah. Ada yang hanya mengikuti trend-trend yang sudah dirintis orang lain, tetapi justru perintis, yang merupakan seorang visionaris, adalah seorang yang sudah membaca arah gerakan Roh Kudus, sudah melihat arahnya ke mana lalu membangun pelayanan sesuai dengan itu. Itulah sebabnya Yonggi Cho dapat membangun jemaat terbesar di dunia di Seoul, Korea, dan Caesar Castellanos begitu berhasil di Bogota, Kolombia.

Seorang visionaris adalah lebih daripada seorang yang mendapat visi atau pewahyuan dari Tuhan, seorang visionaris adalah orang yang sanggup merasa gerakan dan arah Roh Kudus dan trend-trend dalam masyarakat yang dilayani. Ada jemaat di Melbourne, Australia, Waverley Christian Fellowship, yang dirintis oleh Pdt. Richard Holland. Dia membeli tanah luas di pertengahan perkebunan pada tahun 1980, jauh dari perumahan-perumahan, ketika jemaatnya hanya berjumlah 150 orang. Dia melihat bahwa itulah daerah perluasan kota yang nanti akan ada banyak proyek perumahan. Dia dapat melihat bahwa satu hari akan ada puluhan ribu keluarga muda akan pindah ke daerah kota yang baru itu. Karena dia adalah seorang visionaris jemaat itu sudah mencapai 6000 anggota. Seorang pemimpin perlu memiliki urapan profetik supaya sensitive terhadap suara Roh Kudus tentang keadaan yang ada dan yang akan datang, seperti nabi Amos nyatakan,

“Adakah sangkakala ditipu di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar? Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan Tuhan tidak melakukannya? Sungguh, Tuhan Allah tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi. Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut? Tuhan Allah telah berfirman, Siapakah yang tidak bernubuat?” Am 3:6-8

Yosafat adalah seorang raja yang memiliki hati yang rindu menyenangkan hati Allah. Dia hidup dalam takut akan Tuhan dan dia rajin berdoa untuk mencari kehendak Tuhan, 2Taw 20:1-13. Karena kepekaannya terhadap kehendak Allah terjadilah suasana yang baik untuk suara kenabian dinyatakan untuk memberitahukannya jalan Tuhan demi keselamatan bangsa. Ketaatannya menghasilkan kemenangan ajaib dan kemuliaan bagi nama Tuhan, 2Taw 20:14-32. Yosafat telah memberi nasihat yang kita perlukan masa kini dalam pemulihan suara profetik, “Percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dan kamu akan berhasil!” 2Taw 20:20.

Pemimpin-pemimpin dengan suara profetik dapat memberitakan rahasia kemenangan dan kunci sukses yang juga menjadi milik kita kalau kita percaya. Hanya masalahnya ialah bahwa sering kali hamba-hamba Tuhan menjadi tuli terhadap suara Tuhan. Hal demikian terjadi di zaman Eli sehingga Tuhan membangkitkan pimpinan generasi baru yang terbuka mendengar suara Tuhan dan Samuel menjadi nabi Tuhan bagi generasinya, 1Sam 3:1-21. Jangan sampai kita dilewati Tuhan karena tuli terhadap suara-Nya pada generasi kita ini. Umat-Nya memerlukan para pemimpin dengan suara profetik yang akan memimpin umat-Nya bahkan masyarakat keluar dari kekacauan, 1Kor 14:31-33.

Seorang Hamba Tuhan adalah seorang pembentuk strategi dan dia harus dapat mengaplikasikan kebenaran agar terwujud secara praktis. Dia tidak hanya menyadari tantangan-tantangan masa depan, tetapi dia juga mampu membentuk perencanaan untuk menghadapi semua tantangan itu. Dia bukan pemimpin belaka tetapi dia seorang realistis yang menyadari kenyataan keadaan. Dia juga menyadari kesempatan-kesempatan yang muncul dalam berbagai situasi dan dia mampu mencetuskan perencanaan yang sesuai realita yang ada dan tahu apa yang dapat dicapai agar ladang yang menguning boleh dituai dengan baik. Raja Salomo berulang kali telah menyatakan bahwa para pemimpin yang baik akan membuat perencanaan yang demikian.

“Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada”, Ams 11:14

“Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak”, Ams 15:22

“Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak”, Ams 24:6

Seorang pemimpin akan melaksanakan semua rancangan dan pertimbangan dengan matang sehingga melahirkan strategi-strategi yang membawa kemenangan. Itulah sebabnya orang mau mengikutinya sebab pengikut-pengikut itu juga mau menang. Seorang pemimpin mungkin saja akan membuat kesalahan sementara potensinya dikembangkan, tetapi kalau dia berjiwa pemimpin dia akan belajar dari kesalahannya. Raja Daud telah membuat demikian. Dalam semangatnya untuk memulihkan kemuliaan Allah, Tabut Perjanjian, ke Israel, dia lupa berkonsultasi dengan Tuhan. Akibatnya adalah usahanya gagal dan Uza dibunuh dalam murka Tuhan. Namun Daud telah belajar dari kesalahannya lalu membentuk strategi-strategi pemulihan kemuliaan Allah sesuai dengan Firman Tuhan sehingga berhasil, 1Taw 13-15. Inilah contoh baik bagi kita. Hal yang sama terjadi dalam kehidupan Musa. Musa mentaati nasihat Yitro untuk membentuk suatu struktur kepemimpinan yang berbentuk piramida tanpa menanyakan Tuhan, Kel 18:13-27. Akibatnya, situasinya menjadi lebih berat sampai dia meminta Tuhan membunuhnya saja. Hanya setelah Musa merendahkan dirinya, Tuhan telah menyatakan kepadanya strategi-strategi dan pola kepemimpinan yang akan mengarahkan jemaat Israel ke arah kemenangan, Bil 11:10-30. Sesuai dengan contoh Daud dan Musa kesuksesan akan dihasilkan bila kita bersedia belajar dari kesalahan, menerima hikmat Tuhan lalu melahirkan strategi-strategi sesuai pola yang sudah diwahyukan Allah di dalam Firman-Nya.

Seorang Hamba Tuhan harus sanggup mengkomunikasikan visi dan strateginya. Agar visi dan strategi dapat dikomunikasikan dengan jelas, semuanya harus dicatat dengan lengkap supaya semua yang terlibat dalam pelaksanaannya akan mengenal apa yang perlu dilakukannya. Perencanaan tanpa iman akan menemui jalan buntu, maka seorang pemimpin harus sanggup mengkomunikasikan perencanaan itu dengan dasar Firman Tuhan agar iman diciptakan untuk penggenapan visi dan strategi tersebut. Oleh sebab itu seorang pemimpin yang sukses akan menyampaikan visinya dengan otoritas Firman, kesanggupan urapan Roh Kudus, dan motivasi kasih Kristus. Baik visi dan strategi maupun sifat-sifat ini perlu diimpartasikan kepada tim pelaksana visi itu.

Kemampuan berkomunikasi dengan jelas dan efektif, selain diberi sebagai karunia Allah, dapat dikembangkan dengan pengalaman dan kesediaan belajar dan menerima pengoreksian dengan rendah hati. Seorang pemimpin harus mampu mengajar orang lain, atau berkomunikasi dengan efektif, 1Tim 3:1-3; 5:17; Tit 1:5-9. Nabi Yehezkiel diperintahkan untuk menjelaskan rencana Allah yang dinyatakan di dalam Bait-Nya, bahkan dia harus,

“Gambarlah Bait Suci itu … beritahukanlah kepada mereka … tuliskanlah itu di hadapan mereka agar mereka melakukan dengan setia segala hukumnya dan peraturannya”, Yeh 43:11.

Jadi, Yehezkiel harus mengkomunikasikan dengan jelas apa yang dikehendaki Tuhan, dan prinsip yang sama adalah benar bagi kita. Musa (Kel 3) mendapat visi dari Tuhan tentang pelepasan umat Israel dari Mesir dan visi itu harus disampaikan kepada para pemimpin Israel bahkan kepada Firaun. Musa telah menyampaikan visinya kepada bangsa Israel, “Kita memiliki masa depan yang dahsyat!” Tetapi ternyata Firaun tidak sehati dengan Musa dengan visinya itu. Malah dia balas dengan berkata, “Karena kalian punya waktu luang terlalu banyak maka kalian ada waktu untuk membicarakan visimu ini – jadi, saya akan mengisi waktumu itu dengan lebih banyak pekerjaan!” Pada saat itu kelihatan bahwa komunikasi Musa belum cukup efektif, baik kepada Firaun maupun kepada bangsa Israel. Sekarang mereka mempunyai problema besar – lebih banyak tugas, lebih banyak siksaan. Bagaimana bangsa Israel dapat mengatasi masalah ini? Bunuh Musa! Dia penyebab tambahan siksaan itu! Seringkali menjadi pemimpin tidak gampang dan harus bersedia menghadapi ancaman-ancaman demi keselamatan umat Tuhan. Setiap hati yang belum diyakinkan mau kembali kepada kebiasan atau tradisi. Bangsa Israel mau kembali makan bawang putih di Mesir – tetapi tidak! Musa adalah seorang pemimpin yang memiliki visi yang harus dikomunikasikan kepada umatnya agar mereka juga melihat dan percaya.

Seorang pemimpin harus sanggup mengkomunisakan visi yang dimilikinya. Sering kali dalam umat Tuhan ada yang menjadi takut terhadap visi yang diberikan karena mereka merasa visi itu terlalu sukar, berat, atau masih terlalu jauh dari jangkauan kita, jadi mereka berlindung dalam hal-hal yang dirasa dapat diterima dan apa yang tidak terlalu berat atau sukar percaya. Misalnya, dalam Ef 5:26-27 Paulus mengungkapkan kerinduan Yesus untuk memiliki umat sempurna sebagai mempelai-Nya yang tidak ada cacat cela melainkan penuh dengan kemuliaan. Ini dirasa terlalu sukar, terlalu jauh atau pun mustahil, jadi lebih mudah kita mengatakan, “Oh, itu nanti setelah Yesus datang kembali.” Jadi, apa yang terlalu sukar untuk percayai terjadi sekarang kita undurkan sampai setelah Yesus datang kembali. Contoh lain adalah Yoh 17:20-23 ketika Yesus berdoa untuk persatuan dan kesempurnaan Tubuh Kristus “agar dunia percaya.”

Tujuan persatuan yang sempurna itu adalah tujuan injili, yaitu semua orang percaya, tetapi kita cenderung berkata itu mimpi mustahil dan itu diundurkan lagi sampai setelah Yesus kembali. Namun, kalau diundurkan demikian sudah terlambat untuk dunia menjadi percaya. Jadi tugas seorang pemimpin yang memiliki visi Alkitabiah harus sanggup mengkomunisakan visi itu untuk melahirkan iman agar yang tadinya mustahil boleh saja terjadi. Oleh sebab itu seorang pemimpin yang sukses bersedia keluar dari “comfort zone”, tempat dia merasa enak dan situasi dapat dikendalikannya, lalu mengambil risiko dengan langkah-langkah iman. Seorang yang bersifat “pengelola” tidak akan mengambil risiko demikian. Dia akan berpikir, “Risikonya terlalu besar!” Mereka tidak bersedia menghadapi kemungkinan gagal, tetapi seorang pemimpin yang memiliki visi bersedia mengambil risiko kegagalan agar membuktikan kebenaran visi yang dimilikinya. Seorang pemimpin harus memiliki keyakinan. Sebuah ide atau pendapat adalah sesuatu yang Anda pikirkan dan bawakan, tetapi suatu keyakinan (conviction) akan mengangkat dan membawa kita.

Keyakinan adalah infrastruktur rohani yang menanggung visi dan mendorong kita untuk melakukannya. Kalau visi itu hanya pada kami, maka kami tidak akan mampu menggenapinya, maka pemimpin harus juga mampu mengkomunikasikan, mengimpartasikan visi kepada yang lain supaya mereka juga meyakininya.

8. Hamba Tuhan adalah penyembah dengan roh dan kebenaran

“Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, Tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan … mereka menyanyikan suatu nyanyian baru”, Why 5:8-9

Mereka terus-menerus tersungkur di hadapan Yesus dan mereka memegang alat musik dan menyanyikan suatu nyanyian baru dalam penyembahan. Nyanyian baru itu adalah nyanyian ilhaman dari Roh Kudus. Raja Daud yang terkenal sebagai pemazmur atau penyanyi nyanyian baru, Mzm 33:1-3; 40:1-4; 47:7-8; 96:1-2; 98:1-2; 147:7; 149:1, telah mengaku bahwa nyanyian-nyanyian itu adalah karya Roh Kudus,

“Inilah perkataan Daud yang terakhir: ‘Tutur kata Daud bin Isai dan tutur kata orang yang diangkat tinggi, orang yang diurapi Allah Yakub, pemazmur yang disenangi di Israel: Roh Tuhan berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku”, 2Sam 23:1-2

Para pemimpin yang sukses juga adalah penyembah-penyembah dengan roh dan kebenaran, Yoh 4:23-24, sebab penyembah-penyembah demikian adalah berkenan kepada Allah. Karena kasih kepada Yesus, mereka masuk ke tengah-tengah alam penyembahan dengan tidak peduli pendapat orang lain. Penyembahan mereka adalah radikal, bebas, diurapi dengan tidak menahan diri sampai tersungkur di lantai di hadapan Yesus.

Mungkin ada yang menganggap bahwa tindakan demikian merendahkan martabat kepemimpinan dan demikianlah pendapat Mikhal, isteri Daud, ketika Daud dengan bebas telah menyembah dan menari-nari di hadapan Tuhan, tetapi karena sikap Mikhal itu dia menjadi mandul, 2Sam 6:11-23; 1Taw 15:25-29. Banyak pemimpin menjadi mandul rohani karena memiliki sikap Mikhal itu. Pemimpin-pemimpin yang sukses adalah penyembah-penyembah radikal di hadapan Tuhan.

9. Hamba Tuhan adalah pendoa

“Masing-masing memegang … satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus”, Why 5:8

Para pemimpin yang di dalam kepemimpinan Tubuh Kristus akhir zaman yang diuraikan dalam Wahyu 4-5 adalah pendoa-pendoa. Mereka mengadakan doa syafaat bagi umat Tuhan. Dalam tangan mereka adalah cawan emas penuh dengan kemenyan. Ini adalah pelayanan Mezbah Dupa yang berperang penting dalam acara pendamaian, Im 16:12-13; Ibr 9:1-10; Why 8:1-5; 11:1-3. Pemimpin-pemimpin yang akan berhasil adalah mereka yang menyadari peranan doa dan memiliki rasa diri terikat pada nasib jemaatnya. Mereka meyakini dan bersedia mengalami apa yang Paulus ajarkan tentang kesatuan Tubuh Kristus,

“Kepala tidak dapat berkata kepada kaki: ‘Aku tidak membutuhkan engkau.’ Malahan justru anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” 1Kor 12:21-27

Oleh karena hati para pemimpin bersatu dengan keadaan jemaat, mereka terdorong oleh rasa kasih bagi mereka. Dengan demikian, mereka akan bertindak seperti para pemimpin yang diinginkan Tuhan. Para pemimpin demikian akan menangisi nasib jemaat, kota dan bangsa sambil berdoa kepada Tuhan. Yoel berseru kepada mereka:

“Baiklah para imam, pelayan-pelayan Tuhan, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: ‘Sayangilah, ya Tuhan, umat-Mu, dan jangan biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?” Yl 2:17

Mereka juga adalah orang yang bersedia melamar untuk pekerjaan yang diiklankan Tuhan melalui nabi Yehezkiel ketika umat Tuhan sedang berhadapan dengan disintegrasi, kebinasaan dan murka Tuhan.

“Hai anak manusia katakanlah kepadanya … pemimpin-pemimpinnya … imam-imamnya … pemuka-pemukanya … nabi-nabinya … penduduk negeri … Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya”, Yeh 22:23-31

Tuhan telah mencari di antara para pemimpin, pemuka, imam, nabi bahkan rakyat untuk seorang yang bersedia berdiri di hadapan Tuhan dan mengadakan syafaat demi keselamatan umatnya tetapi tidak ada yang bersedia melamar! Seorang pemimpin sukses adalah orang yang berani berkata, “Inilah aku, Tuhan, aku bersedia!” Seorang pemimpin demikian akan mengubah sejarah, menyelamatkan umat Tuhan dari bahaya, dan melepaskan banyak jiwa untuk percaya kepada Tuhan. Pemimpin-pemimpin demikian adalah yang benar-benar pemimpin yang sukses.

Para pemimpin yang sukses harus memiliki hati Bapa yang sekaligus mengandung hati multiplikasi. Petrus telah menasihati para penatua agar jangan memimpin “dengan paksa”, 1Ptr 5:2 atau untuk memimpin “seolah-olah mau memerintah atas mereka”, 1Ptr 5:3. Kemampuan memimpin dengan baik disamakan dengan kemampuan memimpin keluarga, 1Tim 3:5, dan sebagaimana dalam keluarga seorang Bapa mau mendewasakan dan membebaskan anak-anaknya agar mencapai dan memaksimalkan potensinya. Dia tidak mau mengontrolnya, dia justru rindu agar mereka menjadi lebih dari dirinya sendiri. Dia tidak terancam dengan sukses anak-anaknya, malah dia bangga. Dia rindu melihat mereka bertumbuh dewasa, menikah dan beranak-cucu, yaitu mengalami multiplikasi. Sifat ini adalah sifat seorang pemimpin sejati di dalam Gereja.

Untuk mencapai tujuan itu seorang pemimpin rindu berkomunikasi dengan “anak-anaknya”, sama seperti Allah Bapa. Yesus mengajar kita berdoa, “Bapa di Surga...” karena Allah Bapa rindu berhubungan dengan kita. Dia mau agar kita mengenal-Nya secara pribadi sebab dalam pengenalan itu kita diberi keyakinan dan semangat untuk maju. Lewat seorang pemimpin yang demikian “anak-anaknya” akan mengenal Allah Bapa. Yesus berkata, “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku”, Yoh 14:7. Yesus sebagai seorang pemimpin yang benar telah memperkenalkan kita kepada Bapa yang adalah sumber segala sesuatu. Kalau kita mau sukses kita perlu melakukan yang sama.

Gambar kebapaan yang sebenarnya harus dipulihkan di dalam kehidupan umat Tuhan sebab terlalu banyak pelayan hanya merupakan pendidik dan tidak menjadi bapa. Paulus berkata, “Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu. Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!” 1Kor 4:15-16. Paulus, sebagai seorang pemimpin yang bersifat Bapa, dapat berkata, “Turutilah teladanku!” Apakah kita bersifat Bapa sejati ataukau kita berkata, “Jangan ikut saya, tetapi ikut Yesus.” Kalau Anda berkata demikian, Anda belum bertumbuh sebagai pemimpin sejati yang bersifat Bapa. Jangan berdalih-dalih tetapi berubahlah dan jadilah teladan yang baik dengan memiliki hati Bapa yang akan sanggup memulihkan hati terluka karena gambar Bapa yang keliru, Mal 4:4-6.

10. Seorang Hamba Tuhan sanggup menyelesaikan Amanat Agung atau tugas yang diberikan Tuhan

“Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: … Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa”, Why 5:10

“Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta”, Why 7:9

Seorang pemimpin yang akan sukses harus mempunyai visi dan misi untuk menyelesaikan tugas injili yang Tuhan berikan. Hanya akan ada satu generasi dalam sejarah yang akan langsung menyaksikan penggenapan visi ini tetapi semua generasi yang mendahuluinya juga bergerak ke arah itu sesuai dengan bagian tugas yang diberikan Yesus kepadanya. Para pemimpin akhir zaman akan melihat kesudahan itu dan akan memimpin suatu kegerakan dahsyat yang akan menghasilkan tuaian global yang tidak terhitung banyaknya. Yesus berkata bahwa cara Dia memuliakan Allah Bapa adalah dengan jalan menyelesaikan tugas yang diberikan kepada-Nya,

“Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya”, Yoh 17:4

Seorang pemimpin sukses akan menangkap tugas yang diberikan kepadanya oleh Tuhan dan akan melakukannya sampai selesai. Oleh karena kita hidup pada akhir zaman, bahkan merupakan generasi pertama dalam sejarah yang sanggup menyelesaikan tugas penginjilan yang diamanatkan kepada kita oleh Yesus pada tahun 30M.

Kini kita tahu berapa banyak suku bangsa belum diinjili, berapa banyak yang belum ada Alkitab atau Perjanjian Baru atau Injil Yohanes atau seorang penginjil ataupun seorang Kristen. Kita tahu di mana lokasinya, jumlahnya, bahasanya dan kebudayaannya. Kita tahu berapa banyak Gereja Injili yang ada di dunia dan apa yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas agung itu, tetapi di manakah pemimpin-pemimpin yang bervisi, bersedia dan berkomitmen untuk melakukannya?

Kita memerlukan pemimpin-pemimpin seperti kedua puluh empat penatua itu untuk mewujudkan kepemimpinan yang sanggup menyelesaikan tugas itu di seluruh dunia.

Motivator – sanggup memotivasikan orang lain

Kesaksian keselamatan, kehidupan, pelayanan dan uraian-uraian Rasul Paulus telah menjadi inspirasi yang memotivasi orang-orang Kristen sepanjang sejarah. Dulu, Paulus adalah seorang otak kerusuhan dan provokator penganiayaan terhadap orang Kristen namun dia diubahkan oleh kuasa Allah untuk menjadi pemimpin teladan yang berhasil dan saksi kesanggupan Allah untuk mentransformasikan kehidupan siapa saja yang datang kepada-Nya.

“Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: ‘Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa’, tetapi justru karena itu dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal”, 1Tim 1:15-16.

Paulus, setelah menjadi teladan, telah mendorong Timotius untuk juga menjadi teladan. Demi keselamatan jiwanya sendiri dan semua orang yang mendengarnya dia harus hidup menurut kehendak Allah dan menjadi teladan bagi orang lain.

“Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran yang sehat yang telah kauikuti selama ini…. Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu. Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu dan dalam kesucianmu. Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar. Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau”, 1Tim 4:6-16.

Pada zaman Musa dan Yosua, bangsa Israel telah memiliki duabelas pemimpin suku. Mereka semua telah mendengar visi yang diberitakan Musa kepada mereka dan mereka diutus untuk mengintai Negeri Perjanjian. Visi sudah dikomunikasikan kepada mereka bahkan mereka telah melihatnya sendiri tetapi mereka pengecut. Sepuluh dari duabelas pemimpin itu telah gagal membuat transisi untuk memotivasi umat untuk memiliki penggenapan visi itu di Negeri Perjanjian dan karena itu suatu generasi dipimpinnya ke dalam kemerosatan, kemunduran dan kematian, Bil 14; Ul 1. Seorang pemimpin harus menjadi seorang motivator agar mereka yang dipimpin akan bertindak dan bergerak maju dengan iman menuju tujuan yang mau dicapai.

Kalau kita memiliki para pemimpin seperti yang dijelaskan di atas, maka kita dapat memasuki Akhir Zaman dengan hati tenang bahwa Tuhan telah mempersiapkan para pemimpin yang tepat, yang penuh integritas, hikmat, kasih, urapan dan kesanggupan untuk menghadapi tantangan-tantangan masa depan.

Dr. Jeff Hammond

Tidak ada komentar: